PT Honda Prospect Motor (HPM) sebagai Agen Pemegang Merek Honda di tanah air, menghadirkan varian baru Honda Mobilio. Hal ini dirasa penting dikarenakan Mobilio berhasil menjadi model Honda yang paling laris terjual sepanjang 2016 yang lalu.

Jika pada waktu peluncuran kami cuma bisa memandanginya, akhirnya HPM mengajak kami untuk mencoba Honda Mobilio baru. Tidak tanggung-tanggung, kami diajak ke Bali untuk mencoba langsung impresi berkendaranya.

Ubahan menyasar pada bagian eksterior, interior serta beberapa fitur. Sayangnya, HPM belum merasa perlu untuk melakukan perbaikan pada bagian mesin atau hal teknikal yang lainnya.

Soal perbaikan tampang, memang jadi selera personal. Khusus di tipe RS, lampu proyektor yang ada di varian sebelumnya justru dihilangkan. Tentu ini akan menuai beragam reaksi.

Lampu proyektor yang absen ini, menurut kami sedikit menghilangkan kesan modern di Mobilio RS. Beruntungnya desain atap warna hitamnya berhasil memberikan kesan mewah. Dari luar sepintas mirip tampilan atap panoramic.

Langsung saja kami beranjak pada interior, untuk mulai berkendara. Seperti telah diketahui bersama, headrest bangku depan sekarang menggunakan tipe terpisah. Ternyata alasan HPM melakukan perubahan ini ialah berkat input dari konsumen.

Mereka ingin headrest terpisah supaya dapat disisipkan headrest monitor. Apapun alasannya, kami suka model jok barunya ini. Sedangkan untuk bagian dasbor tidak ada perubahan.

Putar kunci dan kami mulai berkendara. Asyiknya, kami diberi kebebasan untuk menjelajah pulau Bali. Kami pun langsung terpikir lintasan sevariatif mungkin untuk bisa merasakan impresinya secara menyeluruh.

Pertama, kami coba untuk mencari lintasan macet khas kota besar. Jalan Sunset Road pun kami pilih untuk merasakan Mobilio RS di padatnya lalu lintas. Di sini, fasilitras hiburan jadi penting untuk memecah kepenatan bahkan meningkatkan rasa nyaman di jalan.

Beruntungnya Honda Mobilio RS baru, ada peningkatan pada sistem hiburan dan tata suara kabin. Head unitnya kaya dengan fitur. Sayang sekali punya antar-muka yang kurang ramah pengguna. Bahkan kami merasa kesulitan pada waktu ingin menyambungkan smartphone via Bluetooth, kami juga merasa sistemnya terasa lamban sehingga kurang responsif dalam mengolah perintah.

Yang menyenangkan, lantunan suaranya cukup baik. Detail nada di frekuensi tinggi terasa presisi. Sayangnya pada saat mendengarkan lagu dengan lantunan nada rendah yang dominan, speaker-nya mulai terasa keteteran.

Setelah puas merasakan kemacetan, kami pun segera melihat multi information display untuk mengetahui konsumsi bahan bakarnya. Hasilnya, angka 11,3 km/l ialah yang tertulis di sana. Masih wajar mengingat lintasan yang kami lalui terbilang sangat padat, dengan dominasi antrian lampu lalu lintas yang lumayan panjang.

Kemudian kami menuju ke area jalan tol Bali Mandara untuk mengetahui performanya. Hasilnya memang tetap khas Mobilio. Dorongan tenaga terasa kuat, tetapi disalurkan dengan lembut oleh transmisi CVT. Efeknya, Anda jadi tidak sadar bahwa mobil sedang membangun kecepatan dengan kuat.

Terakhir, kami coba Mobilio RS ini di kondisi jalan yang sedikit bergelombang. Kami pun segera melajukan mobil kearah Tegal Wangi. Di jalan ini, kami berpindah posisi ke bangku kedua. Mengapa? karena kami penasaran akan impresi jok baris kedua yang sekarang dipertebal busa pada bagian bawahnya.

Iklan